Ajaran Tu dan Yang, Kepercayaan Lama yang Menggerogoti Akidah Islam (bag. 1)

Sesungguhnya segala puji milik Allah, hanya kepada-Nya kami memuji, meminta pertolongan, dan memohon ampunan. Kami berlindung kepada Allah dari semua kejelekan jiwa dan keburukan perbuatan kami. Siapa yang diberikan petunjuk oleh-Nya, niscaya tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa saja yang disesatkan oleh-Nya, niscaya tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (Tuhan) yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." 
Q.S. Ali Imran: 102

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
Q.S. An-Nisaa': 1

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."
Q.S. Al-Ahzab: 70-71

Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kalamullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw., seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. 

Tidak banyak yang tahu tentang kepercayaan pada Tu dan Yang. Kepercayaan ini merupakan ajaran kepercayaan yang dipeluk oleh keturunan Yafits putra Nuh as., yakni nenek moyang penduduk Asia Timur, Asia Tenggara, Polinesia, Mikronesia sampai penduduk asli Amerika Latin. 

Pada mulanya, kepercayaan ini kemungkinan berasal dari agama wahyu yang diajarkan oleh nabi Nuh as. Setelah beberapa generasi sepeninggal beliau, terjadi berbagai penyimpangan sehingga ajaran ini menjadi jauh dari kebenaran. Semula ajaran ini bersifat monoteisme yang hanya menyembah Tu sebagai entitas tertinggi, lambat laun karena bercampur dengan mitos-mitos, kepercayaan ini berubah menjadi panteisme dan akhirnya menjelma jadi ajaran politeisme. Tu sebagai entitas tertinggi hanya dipercaya sebagai pencipta, sedangkan yang mengatur alam dan kehidupan di dalamnya adalah para Yang. Yang merupakan dewa-dewa yang derajatnya di bawah Tu.

Maksud penulis membahas topik ini, agar kita dapat membentengi akidah Islam kita agar  pemahaman dan peribadatan Islam tidak tercemar kepercayaan Tu dan Yang. Di Nusantara, ajaran Tu dan Yang masih membekas, terutama berupa mitos-mitos dan peribadatan yang berasal dari leluhur. 

Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda, 
"Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka."
HR. Abu Dawud 

Semoga Allah melindungi kita dari menyerupai pelaku dan perbuatan syirik. Amin.

Diperkirakan pada tahun 5.000 SM, terdapat sebuah ajaran penyembahan kepada Tu dan Yang yang berpangkal di Asia Tengah dan mungkin dianut beberapa suku Mongoloid Purba (nenek moyang bangsa Cina, Tibet dan Jepang) dan berkemungkinan pada sekitar tahun 3.500 SM telah dianut beberapa suku nenek moyang Proto Melayu yang masih menduduki beberapa daerah di Cina Selatan. Seiring waktu, Mereka bermigrasi ke lembah Menam, Mekong dan Irawadi. Maka terjadilah percampuran di Asia Tenggara antara suku-suku Proto Melayu dengan suku-suku Cina Purba, diantara keturunan campuran itu adalah bangsa Anam dan Siam (Thai).

Kisaran tahun 2.000 SM, suku-suku Proto Melayu ini menyebar dan bermigrasi ke berbagai arah. Ada yang memasuki India melalui Assam, diantara keturunannya ialah suku Munda. Ada pula dari suku-suku Proto Melayu itu yang menempuh pesisir timur Cina, sebagian bermukim dan sebagian terus bergerak ke Utara hingga ke semenanjung Korea. Dari Korea, sebagian berlayar ke timur hingga sampailah di kepulauan Jepang. 

Ada juga suku-suku Proto Melayu yang bermigrasi ke selatan, memasuki wilayah Nusantara (semenanjung Malaka, Indonesia dan Filipina). Di Nusantara mereka bertemu rombongan suku lain yang bermigrasi dari India dan Afrika. Dari Nusantara, suku-suku Proto Melayu itu sebagian berlayar ke Utara, memasuki Taiwan dan terus berlayar hingga bertemu dengan rombongan lain di kepulauan Jepang. Dari Nusantara juga, keturunan Proto Melayu yang telah bercampur dengan rombongan migrasi dari Afrika, berlayar ke selatan dan timur hingga tiba di Selandia Baru dan sekitarnya, Polinesia, Mikronesia bahkan kemungkinan mereka sampai ke selatan benua Amerika karena terbawa arus laut saat berlayar dari Polinesia. Kesemua bangsa ini berasal dari nenek moyang yang sama, hal ini dapat dibuktikan dari akar kepercayaan yang menunjukkan titik persamaan. Disamping itu, banyak persamaan budaya seperti budaya padi, budaya bambu, hiasan kepala, baju kutung, mitologi bahkan kesamaan perahu yang sama-sama menggunakan perahu cadik.

Ajaran kepercayaan Tu dan Yang berkembang di tiap-tiap daerah dengan bentuk peribadatan yang berbeda pula. Meski berbeda peribadatannya, namun intisari dari ajaran ini sama, yakni menyembah Tu sang pencipta dan Yang, para dewa yang derajatnya dibawah Tu. Istilah Tu dan Yang pun berbeda di masing-masing daerah, menyesuaikan dengan perkembangan bahasa, dialek dan budaya setempat.

Ajaran kepercayaan Tu dan Yang di Cina, Korea dan Jepang kemudian ditulis dan dibuatkan kitab pegangan, sementara di daerah lain seperti Asia Tenggara dan Polinesia tidak dikitabkan karena pada saat itu mereka belum mengenal tulisan.

1. Ajaran Tu

Penguasa sekalian alam itu dinamakan Tu yang bersifat esa, tidak berawal dan tidak berakhir. Ia maha besar jika dibandingkan dengan alam terbesar dan maha kecil jika dibandingkan dengan alam yang terkecil. Akan tetapi zat itu memenuhi sekalian alam. Bila alam itu binasa, zat Tu itu kembali seperti semula.

Di Cina, ajaran Tu sudah dibukukan dan dikenal dengan nama Tao. Menurut Lao-tzu dalam buku Tao Te Ching:

"Dalam segala benda ada Tao, Tao sendiri bukan benda, dalam segala kejadian ada Tao, jika suatu kejadian berakhir, Tao tetap kekal abadi, ada dengan tiada tetap bertautan, tak pernah bercerai, sebermula terjadilah langit lalu bumi, keduanya diam keduanya sunyi.

Ia Tao, ada tersendiri dan tak pernah berubah. Berpusing dalam bulatan dan tak pernah tidak tetap. Pandanglah Tao itu sebagai ibu dunia. Siapakah namanya? Entahlah, ia hanya ku sebut Tao.

Orang memandangnya namun tak melihatnya, namanya Ie. Orang mendengarkannya namun tak menyimaknya, namanya Hie. Orang mencapainya namun tak terpegang nya, namanya Wie (ghaib)."

Jadi, Tao atau Tee atau Thian bersifat Ie, Hie dan Wie.

Ajaran Tu juga terdapat dalam agama Konghucu, meskipun Kung Fu-tzu lebih menekankan pada akhlak atau budi pekerti ketimbang ketuhanan. Kung Fu-tzu berkata, "Tao itu boleh dipikir dengan mengkaji alam dan kehidupan ..." Tao itu bersatu tapi bercerai dengan alam.

Konghucu menyebar dari Cina ke berbagai daerah, salah satu bangsa penganut Konghucu selain bangsa Cina adalah Korea dimasa Dinasti Joseon.

Di Jepang, To itulah pangkal kejadian. Bila kejadian itu berakhir, To tetap abadi dan jalan itu adalah jalan pada To (Sinto). 

Menurut orang Mon dan Khmer, Tu atau Tuh itu ada dan menyeluruh. Ia jauh tiap dekat. Ia bersatu tapi berpisah. Dan menurut ajaran Melayu Purba, Tu dinamakan pula Tuh (jika diberi imbuhan -an menjadi Tuhan). Tuh dinamakan pula Sanghyang Tunggal yang hidup bersekutu dalam alam, tetapi ia bukan alam.

Masyarakat Jawa kuno menyebut ajaran ini Kapitayan dan di Sunda disebut Sunda Wiwitan. Kepercayaan ini menyembah Sanghyang Taya. Taya bermakna yang absolut, yang tidak bisa dipikir, tidak bisa dibayang-bayangkan dan tidak bisa didekati dengan panca indera. Orang Jawa kuno mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat, "tan kena kinaya ngapa" alias "tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya."

Untuk itu, supaya bisa dikenal dan disembah manusia, Sanghyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat ilahiah yang disebut Tu atau To, yang bermakna 'daya ghaib' bersifat adikodrati. Tu atau To ini satu dalam dzat, satu pribadi atau tunggal. Sanghyang Taya juga dikenal dengan nama Sanghyang Tunggal.

Begitu halnya di wilayah lainnya dari; Asia Timur, Asia Tenggara, Polinesia, Mikronesia sampai penduduk asli Amerika Selatan, kesemuanya mempercayai Tu sebagai entitas tertinggi alam semesta. Nama Tu berbeda di tiap daerah, terkadang dinamakan Tao, Tuh, Toh, Tee, Thian, Taya, To, Thi, Teuh, Tunggal, Toaroa dan sebagainya. Meski berbeda, kesemuanya berasal dari akar kata yang sama dan merujuk pada entitas yang sama pula.

2. Ajaran Yang 

Selain Tu atau Tuh, mereka juga menyembah banyak dewa akan tetapi derajatnya dibawah Tu atau Tuh. Dewa-dewa ini biasa disebut Yang atau Shan atau Hyang, Iyang, Yeng dan semacamnya. Di Jepang, Yang ini diberi gelar "kami" yang berarti 'roh suci.'

Dewa tertinggi ialah dewa langit dan dewa bumi. Di Cina, dewa langit disebut Yang. Ia sebagai pemberi, ada di atas, berlambangkan merah dan bersifat jantan. Sebagian kepercayaan di Cina juga menamakannya 'Giok Tie.' Dewi bumi ialah Yin atau Ying. Ia sebagai penerima, ada di bawah, berlambangkan putih dan bersifat betina. Perkawinan itu bersifat pengembangan sehingga bersifat merah dan kematian itu kembali ke bumi sehingga bersifat putih. 

Pada kepercayaan asli Siam, dewa langit dan bumi disebut Poyang dan Moyang; pada suku Munda disebut Yhaam dan Yheem; dalam kepercayaan Melayu Kuna disebut Poyang dan Moyang atau Ame dan Ine; dalam kepercayaan asli Kamboja disebut Poyang Ame dan Poyang Ine; dan dalam kepercayaan Sunda Kuna disebut Sunan Bapa dan Sunan Ambu. Dewa langit dan bumi dipercaya berdiam di kahyangan tingkat sembilan. Kepercayaan tentang dewa langit dan bumi ini tersebar luas di muka bumi.
... bersambung...

ditulis oleh: Ibnu Eman al Cidadapi 
Sumber:
Parasit Akidah karya A.D. EL. Marzdedeq 
Manajemen Qolbu para Nabi karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali 
Situs wikipedia.com , tentang: Proto Melayu dan ajaran Kapitayan.









Comments