Ajaran Tu dan Yang, Kepercayaan Lama yang Menggerogoti Akidah Islam (bag.3)

Sesungguhnya segala puji milik Allah, hanya kepada-Nya kami memuji, meminta pertolongan, dan memohon ampunan. Kami berlindung kepada Allah dari semua kejelekan jiwa dan keburukan perbuatan kami. Siapa yang diberikan petunjuk oleh-Nya, niscaya tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa saja yang disesatkan oleh-Nya, niscaya tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada ada ilah (Tuhan) yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." 
Q.S. Ali Imran: 102

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
Q.S. An-Nisaa': 1

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."
Q.S. Al-Ahzab: 70-71

Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kalamullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw., seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. 

Dua artikel sebelumnya telah membahas mengenai konsep ketuhanan Tu dan Yang. Pada bagian yang ketiga ini, saya akan memaparkan beberapa bentuk peribadatan yang ada di ajaran kepercayaan Tu dan Yang yang dibeberapa daerah, peribadatan itu masih dilakukan meskipun mereka sudah mengaku beragama Islam.

1. Pemujaan pada Tu dan Yang 

Peribadatan pada Tu atau Tuh pada mulanya hanya dilakukan oleh Raja. Raja merupakan putra langit dan ia sederajat dengan Yang. Raja lah yang melakukan sembahtu sedangkan rakyat melakukan sembahyang. Rakyat yang menyembah Yang dan taat pada Raja, sama dengan taat pada Tu atau Tuh.

a. Sembahtu 

Pemujaan atau peribadatan pada Tu disebut sembahtu. Sembahtu hanya peribadatan yang khas untuk Raja. Konon untuk keperluan sembahtu, didirikanlah sebuah bangunan batu berundak susun (punden berundak) berbentuk limas (mirip Piramida) dengan tangga kecil di tengah. Bangunan itu biasanya bertingkat ganjil (bertingkat; tiga, tujuh, sembilan, sebelas dan seterusnya) namun ada juga yang bertingkat genap, meskipun kebanyakan temuan bertingkat ganjil.

Punden berundak itu ada yang berukuran kecil dan ada yang berukuran raksasa. Bangunan itu biasanya dibuat diatas lapik batu atau gebar batu. Biasanya terdapat perigi kurban disamping bangunan itu. Sisa-sisa atau reruntuhan punden berundak itu ditemukan di Asia Timur, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan. Di Indonesia, bangunan ini ditemukan di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. 

Konon di zaman dahulu, untuk keperluan sembahtu, seorang gadis cantik pilihan disuruh menari telanjang sambil membawa pisau. Gadis itu lalu bunuh diri dan mayatnya dilemparkan kedalam perigi kurban di samping punden berundak bersama sajian dalam piring-piring emas. Seiring waktu, sembahtu yang dilakukan di atas punden berundak beserta pengorbanan gadis ditinggalkan. Kini Raja melakukan ritual sembahtu cukup di rumah ibadah (kuil atau kelenteng) di istana dengan sesajian tanpa kurban manusia.

Di Cina, sembahtu dilakukan setahun empat sampai lima kali, diantaranya tanggal 9 Cia Gwee (bulan pertama di kalender Cina). Hari itu dipercaya sebagai hari lahir Tu atau Tuh atau Thian atau Thiong. Raja melakukan sembahtu sementara rakyat melakukan sembahyang di rumah masing-masing dengan menyajikan berbagai sesajian khusus.

b. Sembahyang 

Pemujaan pada Yang atau dewa-dewi disebut sembahyang. Sembahyang dilakukan oleh rakyat sebagai bentuk ketaatan pada Tu. Sembahyang untuk dewa-dewi yang tinggal di langit dilakukan di rumah ibadah (kuil atau kelenteng) sedangkan sembahyang untuk dewa-dewi yang tinggal di bumi dilakukan pada waktu-waktu tertentu. 

Di dalam kuil (kelenteng) terdapat patung dewa-dewi, benda-benda pusaka, patung atau papan nama para leluhur yang dihormati, perapian tempat membakar kemenyan atau hio, macam-macam kertas sembahyang, dan genderang atau bedug. Terdapat pula patung dewa penjaga di pintu atau halaman kuil. Patung ini terkadang diletakkan di depan rumah para bangsawan atau orang kaya, sementara orang miskin hanya menempelkan lukisan dewa penjaga. Patung dan lukisan dewa penjaga di letakkan di pintu atau halaman untuk menakut-nakuti hyang jahat atau roh jahat agar tidak mendekat. Terkadang juga diletakkan cermin atau ikatan rerumputan untuk mengusir para hyang jahat.

Di kuil (kelenteng), patung-patung itu dijaga dan dipuja. Pemelihara patung dan benda-benda pusaka di kuil biasanya gadis-gadis yang berpantang untuk kawin dan makan segala sesuatu yang semula bernyawa (vegetarian). Di beberapa tempat, gadis-gadis itu mengenakan pakaian berwarna merah sebagai perlambang Yang dan berwarna putih sebagai perlambang Yin. Setiap hari, dibakarnya hio atau kemenyan serta disajikannya sesajian berupa makanan dan minuman untuk Poyang dan Moyang. Mereka juga memukul genderang atau bedug sebelum melakukan sembahyang, di beberapa daerah genderang ini diganti oleh Genta atau Lonceng atau tetabuhan lainnya. Sembahyang pun dilakukan dengan cara membakar hio (kemenyan) sembari berdoa dalam hati, di beberapa daerah cukup dengan mengatupkan jari tangan di depan wajah.

Sesajian di kuil bangsawan biasanya disimpan pada piring-piring emas atau tembikar mewah, di kuil rakyat kaya diatur pada tempurung berukir dan di kuil rakyat jelata biasanya ditaruh diatas ancak-ancak. Sajian juga diberikan pada hyang baik di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti; kaki gunung, pintu hutan; pohon keramat; dan di kuburan. Sajian untuk hyang baik ini biasanya berupa hio (kemenyan) yang dibakar dan rupa-rupa bunga, terkadang juga diberi sesajian makanan.

Sembahyang untuk Dewa Matahari biasanya dilakukan dengan cara membungkukkan badan (rukuk) ke arah matahari terbit. Di Amerika Selatan, sembahyang pada dewa Matahari dilakukan dengan memberi persembahan darah dari kurban manusia. 

Sembahyang untuk Dewi bulan dilakukan dengan memberi sesajian diatas meja kecil pada saat bulan purnama. Para pemuja biasanya tidak tidur semalaman dengan harapan sang Dewi akan turun di dini hari membawa kesejahteraan bagi para pemujanya.

Gerhana merupakan tanda jika Dewa Matahari atau Dewi Bulan dalam bahaya karena mungkin mereka tertidur. Jika ia dan pembantunya tertidur nyenyak, naga langit jahat mungkin akan menelan Matahari atau Bulan. Untuk membangunkannya, dilakukan upacara memukul tabuh-tabuhan selama gerhana berlangsung. Terdapat mitos disaat gerhana, wanita yang mengandung harus mandi atau bersembunyi karena hyang jahat sedang berkeliaran pada saat itu mencari makan terutama janin yang sedang dikandung.

Dewi Padi dipuja pada musim menanam padi, mengetam (panen), dan pada saat menyimpan padi di lumbung. Sembahyang dilakukan dengan membakar hio (kemenyan), sajian berupa bunga rampai, sirih pinang, pisang dan berbagai makanan. Dalam satu tahun sekali pun diadakan pesta panen. Saat itu dilakukan sembahyang dan dibuatkan sesajian makanan yang diatur dalam ancak-ancak, diarak dengan diiringi nyanyian dan tari-tarian pengangkut padi. Dewi Padi pun dipuja saat menumbuk padi, biasanya berupa tabuhan alu berirama disertai nyanyian yang berisi puji-pujian. Disaat perkawinan pun Dewi Padi dimintai berkatnya dengan cara menabur beras kuning.

Dewi Air dipuja pada saat ritual pesta air. Setelah sembahyang, maka dilemparkanlah sesajian ke sungai atau laut. Di sungai, sesajian itu biasanya berupa; kwecang, bacang, hio (kemenyan), bunga-bungaan, rerumputan yang diikat, dan secarik sutra merah. Sembahyang Dewi Laut biasa disebut sedekah laut, sajian biasanya berupa kepala kerbau yang dibungkus kain putih dan dilemparkan ke laut.

2. Upacara Pendirian Bangunan 

Sembahyang pendirian bangunan baru semula ditujukan untuk Yang Pohyan atau Dewa Matahari. Menurut kepercayaan Cina dan sekitarnya, Dewa Matahari akan mengutuk orang yang membuat rumah tanpa memberi sesajian padanya. Tak hanya untuk Dewa Matahari, sembahyang pendirian bangunan pun ditujukan untuk hyang (makhluk halus) penunggu tempat.

Pada saat mendirikan rumah, ditaruhlah pisang (di Cina berupa buah leci, buah bwee dan paku emas yang dilakukan), padi sebagai lambang kesuburan, aneka penganan, dan dua lembar kain. Kain ini dua warna; selembar berwarna merah sebagai perlambang Yang dan selembar lagi berwarna putih sebagai perlambang Yin. Kedua kain ini dipasang diatas palang kayu paling puncak (atas) rumah itu. Kain merah dan putih disatukan agar seimbang antara Yang dan Yin, maka ketentraman akan dimiliki oleh penghuni rumah itu.

Jika mendirikan rumah adat, disembelihlah kambing hitam, kepalanya lantas dikuburkan dan darahnya dipercikan ke empat penjuru rumah. Jika mendirikan istana (kediaman Raja dan keluarganya), dikuburkanlah seorang manusia (biasanya dari kalangan hamba sahaya atau budak) hidup-hidup atau kepala seorang perempuan cantik atau anak kecil hasil pengayaan. 

Penguburan manusia hidup-hidup juga dilakukan saat pembangunan jembatan dan bangunan-bangunan penting lainnya. Pengorbanan ini adakalanya diganti dengan kepala kerbau. Sampai sekarang, upacara penanaman kepala kerbau yang dibungkus kain putih ini masih dilakukan, terutama di kawasan Asia Tenggara.

3. Upacara terkait Perkawinan dan Kelahiran 

Saat seorang gadis mulai mengenal datang bulan, ia akan disuruh untuk melangkahi tungku. Sejak dari itu, berlaku beberapa pantangan baginya; dilarang makan nenas dan beberapa jenis pisang; tidak boleh tidur di siang hari; dilarang duduk di muka pintu; dan sebagainya.

Saat memasuki usia kawin, gigi gadis itu dikikis dan diratakan untuk mencari kerelaan Dewi Padi. Usai dikikis, ia diberi ramuan obat penguat gigi. Si gadis pun melakukan sembahyang memuja Dewa pengurus segala birahi lalu mempersembahkan beberapa sesajian berupa; rupa-rupa bunga, beberapa jenis buah-buahan yang tengah menguning (ranum); dan beberapa cabikan kain tenun. Lalu dinyalakannya tiga perapian atau hio. Semenjak itu, si gadis dipingit dan diajarkan bertenun. Di Asia Tenggara, gadis itu mulai dibiasakan untuk makan sirih.

Ketika seorang gadis telah mendapat jodoh, ia dipertunangkan dan dikawinkan dalam sebuah upacara. Kawin ini biasanya berupa kawin beli, yakni pelamar akan membeli yang dilamar pada keluarganya dan membayar sesuai dengan yang diinginkan oleh keluarga. 

Saat menikah, pengantin dimandikan dan diperciki air berkat lalu disisir oleh anak laki-laki kecil, dipertemukan dengan suaminya, disandingkan dan ditepung tawari. Beras kuning pun ditabur untuk mencari kerelaan dari Dewi Padi. Kedua mempelai kemudian akan sembahyang, diberikan lah sesajian berupa kue-kue, buah-buahan, air manis dan madu. Dinyalakanlah perapian atau sepasang hio berwarna merah dan tirai-tirai rumah pun dihiasi warna merah sebagai perlambang Yang (dewa langit).

Saat mengandung, berlaku pantangan-pantangan bagi si ibu, seperti; tidak boleh mengerat; tidak boleh mengumpat; tidak boleh melihat segala sesuatu yang buruk; dan sebagainya. Saat usia kandungan menginjak tiga bulan, disajikan lah tiga macam buah-buahan. Setelah sembahyang, si ibu dimandikan tiga kali, berganti pakaian tiga kali lalu menyalakan hio tiga batang.

Saat usia kandungan tujuh bulan, disajikan tujuh macam sesajian. Ia bersembahyang lalu ia dimandikan tujuh kali kemudian melepaskan ikan belut ke dalam kain, agar mendapat kelancaran disaat melahirkan. Ia kemudian bersembahyang kembali, kemudian berdagang makanan tujuh macam pada anak-anak dan dibayar dengan uang-uangan. Semenjak itu, si ibu selalu membawa pisau kecil agar tidak diganggu hyang jahat.

Saat lahiran, bayi dimandikan lalu dibungkus dan tangannya diberi gelang benang putih sementara santan bayi dicuci dengan garam dan gula lalu dikubur dengan pelita menyala di atas kuburan itu. Terkadang, santan bayi itu dihanyutkan di sungai agar kelak sang anak pandai merantau.  Diletakkanlah sebuah cermin disamping bayi itu, agar jika hantu-hantu datang mengganggu, hantu itu takut karena melihat wajahnya sendiri kemudian lari. Diletakkan pula sebuah pisau kecil untuk mengusir induk kuyang dan puntianak.

Di beberapa suku di Asia Tenggara, terdapat upacara empat puluh hari kelahiran. Orang tua bayi mengundang tetangga, kerabat dan handai taulan untuk makan-makan dirumahnya.

Jika bayi sudah pandai telungkup, diadakan upacara turun mandi. Jika ia mulai pandai berjalan, diadakan upacara turun tanah. Dan jika anak sudah mulai pandai bermain, diadakanlah upacara pilih-pilih bakat dimana si anak akan dimasukkan ke dalam sangkar ayam dan memilih mainan. Bakatnya akan terlihat dari mainan yang ia pilih.

Bersambung, ...

ditulis oleh: Ibnu Eman al Cidadapi 
Sumber:
Parasit Akidah karya A.D. EL. Marzdedeq 
Manajemen Qolbu para Nabi karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali 




Comments