Ajaran Tu dan Yang, Kepercayaan Lama yang Menggerogoti Akidah Islam (bag. 2)

Sesungguhnya segala puji milik Allah, hanya kepada-Nya kami memuji, meminta pertolongan, dan memohon ampunan. Kami berlindung kepada Allah dari semua kejelekan jiwa dan keburukan perbuatan kami. Siapa yang diberikan petunjuk oleh-Nya, niscaya tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa saja yang disesatkan oleh-Nya, niscaya tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada ada ilah (Tuhan) yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." 
Q.S. Ali Imran: 102

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
Q.S. An-Nisaa': 1

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."
Q.S. Al-Ahzab: 70-71

Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kalamullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw., seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. 

Pada artikel sebelumnya (bag.1), Tu hanya dipercaya sebagai pencipta sedangkan yang mengatur alam dan seisinya adalah para Yang yang derajatnya dibawah Tu. Yang atau lebih dikenal dengan istilah Dewa-dewi ini berjumlah sangat banyak dan keberadaan mereka dipimpin oleh Yang Langit dan Yin Bumi ( Dewa langit dan Dewi bumi). Mereka percaya dewa-dewi ini berdiam di tiga alam; langit, bumi dan diantara langit dan bumi. Sedangkan Tu atau Tuh, ia adalah alam itu sendiri jadi ia berada di ketiga alam.

Nama-nama Yang atau dewa-dewi berlainan pada setiap bangsa dan suku bangsa yang semula menganut ajaran ini, tetapi pokok ceritanya tetaplah sama.

Berikut saya paparkan beberapa dewa-dewi yang cerita dan peribadatannya, dewasa ini menjadi penyakit yang menggerogoti akidah Islam di Nusantara. 

1. Dewa-dewi yang tinggal di langit 

Langit itu ada sembilan tingkat dan dihuni oleh dewa-dewi yang baik. Mereka dipuja agar memberikan maslahat dan menjauhkan mereka dari malapetaka. 

Di langit pertama, ada dewa petir. Ia digambarkan berwajah hitam, selalu membawa cambuk api dan selalu mengejar kucing langit. Jika kucing itu melompat keatas pohon, dicambuk nya pohon itu sampai terbakar. Jika kucing itu melompati sesosok mayat, maka mayat itu akan hidup kembali sementara, sekedar melepaskan dendamnya, dan mayat itu akan memeluk siapapun yang ada di arah depan atau dekat kakinya.

Ada juga dewa pembawa firasat, ia biasa menumpangi hewan ataupun benda alam. Jika akan ada tamu dari jauh, ia akan datang menjelma kupu-kupu sehari sebelumnya. Jika ada pencuri, bersuaralah burung gemak jantan. Jika ada seorang perempuan hendak melahirkan, bersuaralah burung hantu. Jika ada perempuan hamil hasil zina, berkokoklah ayam diwaktu malam. Jika datang musim penyakit, timbullah lembayung merah. Dewa pembawa firasat pun biasa memberi kabar dalam bentuk; tersedak saat makan; gatal pada telapak tangan; suara mengiang pada telinga; panas muka; getaran urat ( pada bibir, mata, tangan dan sebagainya); panas daun telinga dan sebagainya.

Ada juga dewa pembawa tabu, dewa-dewa ini akan mengutuk pelanggar tabu dan menimbulkan bencana atas usulan roh nenek moyang. Ada tabu ucapan, seperti pantang berkata sembarangan (sompral) di hutan. Ada tabu makanan, seperti anak kecil tidak boleh makan brutu ayam. Ada tabu pekerjaan, seperti seorang gadis dilarang duduk di muka pintu. Ada tabu waktu, seperti dilarang membeli jarum, paku, asam dan garam dimalam hari. Dan ada tabu setempat, seperti dilarang memasuki hutan keramat. 

Ada juga dewa-dewa penjaga tiang-tiang Langit. Mereka menjaga tiang-tiang Langit agar jangan sampai runtuh karena dirusak oleh hantu-hantu  atau siluman jahat yang bermaksud mendatangkan bencana.

Di langit kedua, terdapat dewa pengurus angin, Dewi bulan dan Dewi embun. Di Jepang, Dewi bulan -Tsukiyomi- digambarkan sebagai seorang gadis cantik dan berteman dengan Dewi embun, Poh Bun. Di Cina dan Jepang, mereka diberi sajian di atas meja kecil pada masa bulan purnama. Para pemuja berjaga semalam suntuk berharap Dewi bulan dan Dewi embun turun di dini hari untuk memberi kesejahteraan. Di bulan juga berdiam seorang nenek-nenek. Konon ia seorang dewa obat-obatan dari langit ketujuh bernama Payan. Ketika ia diturunkan ke bumi untuk menghidupkan kembali seorang bangsawan yang mati, ia gagal. Lalu ia dibuang ke bulan bertemankan seekor kucing dan seekor katak. Setiap hari ia menenun kain, tetapi jika kainnya hampir selesai, datanglah sang kucing mengoyak kain itu. Masyarakat Sunda menyebut nenek ini dengan sebutan, "Nini Anteh."

Di langit ketiga, terdapat dewa pengurus pasang surut (di Kalimantan disebut Sang Hyang Danum Pasang), dewa pembawa kebahagiaan, dewa pengurus perahu dan perikanan (dewa nelayan), dewa-dewa pengurus binatang suci (diantaranya kucing, kielin dan dua belas binatang zodiak). Jika seseorang sengaja membunuh kucing, ia akan terkena musibah karena dewa pengurus kucing akan membalasnya. Jika tidak disengaja, kucing itu harus dikuburkan layaknya manusia agar terhindar dari musibah.

Di langit keempat merupakan tempat tinggal dewa Matahari. Orang Melayu menyebutnya DangYang Pohan, sedangkan orang Jepang menamainya Amaterasu Omikami. Disini juga tinggal dewa perantara dan dewa pengantar sumpah serapah, di Cina dinamakan Poh Ning dan di Kalimantan sering disebut Aning Kalia.

Di langit kelima, tinggal dewa pengatur cuaca. Dewa ini dipercaya berupa naga yang berjumlah empat ekor. Keempat naga ini menempati arah Utara, Selatan, Timur dan Barat. Seekor naga dibunuh oleh Tu atau Tuh karena ia melanggar amanat. Ia diperintahkan untuk menurunkan hujan di tengah hari, tetapi ia melambatkannya sampai petang hari karena bertaruh dengan seorang peramal. Menurut mereka, inilah alasannya kenapa hujan turun tidak merata di muka bumi.

Di langit keenam, tinggal dewa pengurus judi dan dagang, dewa pengurus kematian dan upacaranya, empat dewa pengurus gunung dan bukit (di Cina disebut Tai Shan), seribuan dewa-dewi pengurus buah-buahan, ulat dan umbi-umbian serta dewa pengurus hama tanaman. Dewa Matahari terkadang pergi ke sini untuk menyimpan matahari saat terjadi gerhana, karena seekor naga jahat akan memakannya atau raksasa tak berbadan akan mengambilnya. Dewa Matahari pun akan datang pada malam hari, agar matahari itu tidak dicuri oleh Yang jahat, ditutupinya dengan kain hitam dan langit pun menjadi gelap.

Di langit ketujuh, kedelapan dan kesembilan merupakan tempat tinggal Yang Bapak (Dewa langit) dan Yin Ibu (Dewi Bumi). Disini terdapat tempat tinggal dan istana dimana dewa tertinggi dan istrinya (Yin-Yang) memerintah.

2. Dewa-dewi yang tinggal di Bumi 

Dewa-dewi yang tinggal di Bumi biasanya berasal dari roh seseorang yang dihormati (roh nenek moyang). Sebagian dibuat patung atau digambar dan ditaruh pada altar di rumah ibadah (kuil). Sebagian pula dibuatkan patung dan ditaruh pada meja pujaan di rumah atau dapur. Dan sebagian lainnya hanya merupakan cerita-cerita mitos, tidak dipatungkan namun disembah di tempat atau waktu-waktu tertentu. Dewa-dewi ini akan memberi manfaat ketika disembah atau dipuja dan akan memberi musibah atau malapetaka saat dilupakan.

Dewi yang terkenal adalah Dewi Padi. Namanya berlainan di setiap daerah; Lo Yien di Cina; Poh Lowin di Mon dan Khmer; Inari di Jepang; dan Ni Luing atau Luing Mayang di Nusantara. Di Jawa dan Bali, namanya berubah karena pengaruh Hindu menjadi Dewi Sri.

Dewi Padi dipuja pada musim menanam, mengetam (panen), menyimpan padi di lumbung, pesta perkawinan (dengan menabur beras), dan sebagainya. Pada umumnya, sajian untuk Dewi Padi diatur dalam ancak-ancak. Saat menumbuk padi, dinyanyikan lah lagu-lagu pujian. Ketika padi diangkut ke lumbung, diadakan upacara berikut nyanyian dan tarian pengangkut padi. Dan dalam setahun sekali, diadakan pesta panen raya dengan nyanyian dan tari-tarian. 

Ada juga Dewi Air yang menguasai sungai dan lautan. Di Cina dinamakan Tin Hau, untuk memujanya biasa diadakan pesta air, di Cina disebut Peh Cun. Dalam cerita, seorang putri raja bernama Tin Hau akan dikawinkan dengan raja buruk muka, karena ayahnya kalah dalam peperangan. Sang putri mengajukan syarat, "Buatkanlah sebuah jembatan jemput di atas sungai Yang Tse Kiang, sebelum pesta perkawinan berlangsung." Manakala jembatan selesai dibangun, sang putri naik ke atas jembatan sambil membawa; nasi yang dibungkus daun anjuang yang berisi daging babi, dinamakan bacang; makanan tawar yang dibungkus daun bambu, dinamakan kwecang; hio atau kemenyan; bunga-bunga kwi; rumput chiang po; dan secarik kain sutra merah. Ia sembahyang di atas jembatan lalu terjun ke sungai dan mati tenggelam. Putri Tin Hau kemudian menjelma menjadi Dewi Sungai.

Singkat cerita, putri Tin Hau banyak berjasa sehingga Dewa Langit mengangkatnya menjadi Dewi Laut Selatan. Di Jawa, putri Tin Hau dikenal dengan nama Nyi Roro Kidul. Dewi Laut biasanya dipuja dengan diberi sajian berupa kepala kerbau yang dibungkus kain putih dan dilemparkan ke laut, sedekah laut. Pesta laut ini diadakan setahun sekali dan diiringi lomba perahu yang diikuti oleh para nelayan. 

Di Thailand, ada pesta air Loi Kratong yang memuja Dewi air Mae Changka. Putri Mae Changka dan Nyi Roro Kidul memiliki cerita yang mirip dengan putri Tin Hau

Segala bentuk pesta air dan pesta perahu, sangat berhubungan erat dengan pemujaan Dewi Air. Upacara air ini tersebar hingga Malagasi, Hawaii, Paska, Tahiti dan suku Maori di Selandia Baru.

Ada juga Dewa Lo Pan yang dipuja untuk mencegah kemarau panjang; dewa dapur yang dipuja agar mendapat berkat; Dewi penolong (dikenal pula dengan sebutan Dewi Kuan Im) dipuja dan diharapkan pertolongannya; di Jawa ada Ni Towong yang dipuja agar melindungi anak-anak; dan lain sebagainya.

Dewa-dewi bumi juga biasa menempati pohon-pohon besar, lembah-lembah, sungai-sungai kecil dan besar, rumah-rumah tua yang ditinggalkan, kuburan, cincin, senjata pusaka dan benda-benda serta tempat lainnya yang dianggap keramat. 

Bentuk pemujaan pada dewa-dewi bumi biasanya berupa sesajian berupa persembahan dan hanya dilakukan di waktu-waktu tertentu, beda dengan dewa-dewi langit yang disembah hampir setiap hari.

Ada juga Hyang atau dewa-dewi yang tidak dipuja namun terkadang dipanggil untuk dimintai bantuan. Di Cina ada Cay Lan Kung dan Cay Lan Tse. Hyang ini dipanggil agar merasuki sebuah boneka bertangan kayu yang dapat digerakkan. Pada ujung tangan diikatan alat tulis. Boneka itu berbaju, berkalung dan menghadap papan tulis. Peminta membaca mantra dan berharap agar Cay Lan Kung atau Cay Lan Tse datang, boneka akan mengangguk saat kerasukan. Boneka itu kemudian ditanyai oleh peminta dan akan menulis jawabannya di papan tulis yang sudah disediakan. Di Jawa, permainan ini dikenal dengan sebutan jalangkung.

3. Dewa-dewi yang tinggal diantara langit dan bumi 

Alam diantara langit dan bumi merupakan dunia ghaib. Alam itu ada di bumi tapi tak terlihat dan berbeda dari dunia manusia. Alam ini dihuni oleh Hyang jahat; Siluman, manusia bunian, dan hantu-hantu. Penganut kepercayaan Yang menyakini bahwa segala musibah, kesialan, malapetaka, penyakit dan bala, kesemuanya disebabkan oleh gangguan dari Hyang jahat. Agar tidak diganggu Hyang jahat, diberikanlah sesajian yang disebut tabur bunian. Terdapat mitos-mitos yang berisi pantangan-pantangan agar terhindar dari gangguan Hyang jahat;  ramalan-ramalan; dan azimat yang melindungi mereka dari Hyang jahat. Para peramal dan dukun juga dipercaya dapat mengobati segala gangguan yang disebabkan oleh Hyang jahat.

Masyarakat Cina, Korea, Jepang dan sekitarnya percaya pada keberadaan siluman berwujud setengah hewan setengah manusia. Para siluman ini berkehidupan seperti manusia dan memiliki negerinya sendiri, negerinya itu tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa. Terkadang siluman itu menjelma menjadi harimau jadi-jadian, buaya jadi-jadian, kera jadi-jadian, babi jadi-jadian dan sebagainya. Hewan jadi-jadian ini juga terkadang berasal dari seorang manusia yang memuja siluman demi mendapatkan kesaktian atau kekayaan. 

Pada pesta tabur padi, panen padi, perkawinan dan pesta air, biasanya dilemparkan makanan seperti kue-kue, dodol, bacang dan sebagainya, agar selama acara berlangsung tidak diganggu oleh para Hyang jahat.

Jika di suatu daerah akan dibangun sebuah bangunan seperti rumah atau jembatan, harus disediakan kurban (tumbal) untuk Hyang atau hantu yang menempati, berupa kepala manusia atau hewan untuk dikuburkan pada saat upacara selamatan. Jika kurban tidak cukup, Hyang atau hantu akan minta tambah dengan perantaraan seorang dukun yang kerasukan.

Ada banyak hyang jahat, ada hyang pembawa penyakit. Pembawa penyakit cacar itu ada tiga hantu, yakni si buta, si lumpuh dan si tuli. Jika sedang beraksi, si buta menggendong si lumpuh dan dibimbing si tuli. Orang yang sakit cacar, jika tak dijaga akan ditukar dengan batang pisang. Si penjaga pun tidak boleh tidur dan harus membawa sapu lidi untuk mengusir ketiga hantu tadi.

Ada induk kuyang yang berdiam dalam pohon besar di tepi air, ada kalanya ia tampak seperti nenek-nenek yang sedang beruncang-uncang kaki di atas dahan.

Ada pelesit, Diyang jahat yang dapat melepaskan kepalanya untuk menghisap darah bayi dan anak-anak, terkadang ia menyamar jadi kain jemuran.

Ada Puntianak, Diyang jahat yang berasal dari seorang perempuan mati bersalin dan punggungnya berlubang. Menurut dongeng, jika dipaku, dia akan menjelma jadi manusia dan saat pakunya dilepas akan kembali jadi Puntianak. Puntianak biasa menepuk-nepuk air sambil meniru suara anak ayam, atau terkadang tertawa terbahak-bahak atau terkekeh. Saat menjelma jadi wanita cantik, ia menggoda lelaki nakal, dibawanya lelaki itu tidur di sebuah rumah mewah. Saat terbangun, ternyata ia tidur di atas kuburan seorang wanita yang mati melahirkan.

Ada pula Matimang, Diyang jahat berupa perempuan yang suka menjelma menjadi seorang dukun beranak atau bidan yang menolong orang melahirkan. Ditolongnya orang itu, darahnya dijilatinya serta bayi dan santan bayi itu dimakannya. Ia sangat takut api, makanya timbullah kebiasaan memanggil dukun beranak atau bidan itu jangan sendirian dan harus membawa api atau obor.

Terdapat banyak hyang jahat berupa hantu-hantu di masyarakat penganut ajaran Yang, seperti kangkamiak, tuyul, legu, telepa, luang, liak, hantu tukung dan sebagainya. Setiap daerah memiliki nama yang berbeda namun dengan cerita yang mirip. 

Para Hyang jahat atau hantu-hantu ini dapat diusir dengan: meriam bambu atau mercon atau petasan; azimat berupa tulisan atau lukisan atau rumput-rumputan atau patung atau simbol atau senjata, ada yang dibawa dalam kantong dan ada yang digantung di pintu rumah; kentongan kayu atau bambu, biasanya dibunyikan saat gerhana bulan untuk mengusir hantu-hantu; permainan api; benda-benda pusaka, biasanya berupa senjata; bunyi genderang, ada cara menabuh panggilan dan ada cara menabuh pengusiran; Kokok ayam putih, lidi, bendera, dan canang (lonceng kecil) yang diikatkan pada kaki; permainan orang-orangan, seperti barongsai, singa-singaan, boneka orang-orangan, dan sebagainya; kerasukan pada acara tarian dan permainan; teriakan dan nyanyian pengusir hantu; serta serbuk-serbuk yang ditaburkan atau bau-bauan khas yang dibakar.

Kesemua kisah tentang Dewa-dewi di tiga alam ini, merupakan khurafat dan takhayul. Dewasa ini, beberapa kisahnya masih diyakini bahkan ritual-ritual nya masih dilakukan oleh mereka yang sudah mengaku beragama Islam. 

Ketahuilah sahabat, perbuatan itu bisa menggiring kita pada kemusyrikan. Segala ramalan-ramalan, azimat, dan ritual-ritual itu adalah bentuk dari kemusyrikan sekali pun kesemua itu dikemas dalam bingkai seni budaya.

Ingatlah, kemusyrikan adalah dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah jika mati di dalamnya.

Firman Allah, 
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar."
Q.S. An-Nisaa': 48

Dari Jabir bin Abdillah ra., nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda, 
"Barang siapa yang mati tanpa berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, ia masuk surga. Barang siapa yang mati dalam keadaan membawa dosa syirik, maka ia masuk neraka."
HR. Muslim 

Jika kita terlanjur sudah melakukan beberapa ritual-ritual yang menjurus pada kemusyrikan, segeralah bertaubat sebelum ajal menjemput dan tinggalkanlah semua perbuatan itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, 

Firman Allah, 
"Katakanlah! Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Q.S. Az-zumar: 53

Bersambung, ...

ditulis oleh: Ibnu Eman al Cidadapi 
Sumber:
Parasit Akidah karya A.D. EL. Marzdedeq 
Manajemen Qolbu para Nabi karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali 

Comments